Bogor Hujan Onthel II
"Sepeda tua tidak pernah sekadar mengayuh roda. Ia mengayuh kenangan, sejarah, persaudaraan, sekaligus merawat warisan bangsa."
Minggu pagi, 21 Juni 2026, Kota Bogor kembali diselimuti suasana yang berbeda. Bukan hanya udara sejuk khas Kota Hujan yang menyambut pagi, tetapi juga deretan ratusan sepeda tua yang perlahan memenuhi kawasan kegiatan Bogor Hujan Onthel (BHO) II. Bunyi dentang bel sepeda, putaran gir roda besi, dan senyum merekah para onthelis menjadi warna tersendiri dalam menyemarakkan rangkaian Hari Jadi Bogor (HJB) ke-544.
Di tengah hiruk-pikuk deru kendaraan bermotor modern, iring-iringan sepeda tua seolah membawa masyarakat menembus lorong waktu kembali pada masa ketika onthel menjadi urat nadi alat transportasi utama. Berbagai merek legendaris asal Eropa seperti Gazelle, Fongers, Humber, Raleigh, BSA, Burgers, Phillips, Simplex, hingga berbagai sepeda tangguh buatan pekerja Nusantara tampil anggun dengan kondisi yang tetap prima terawat, membuktikan bahwa usia hanyalah sebuah angka dan bukanlah penghalang untuk terus berkarya serta menginspirasi.
Namun sesungguhnya, Bogor Hujan Onthel bukan semata-mata tentang berkumpulnya besi-besi tua. Kegiatan ini adalah tentang pertemuan hati. Sebuah ruang silaturahmi maha luas yang mempertemukan para pencinta sejarah, budaya, olahraga rekreasi masyarakat, dan simpul-simpul nilai persaudaraan yang selama ini menjadi ruh pergerakan Komunitas Sepeda Tua Indonesia (KOSTI).
Mengayuh dari Berbagai Penjuru Nusantara
Jika dicermati dari daftar presensi peserta, Bogor Hujan Onthel II nyata-nyata bukan lagi sekadar kegiatan tingkat kota maupun regional. Ia telah berevolusi dan berkembang membesar menjadi ajang silaturahmi berskala nasional.
Para onthelis dan onthelista datang berduyun-duyun dari berbagai titik daerah di penjuru Pulau Jawa, bahkan ada perwakilan yang datang dari luar Jawa. Memang ada yang datang menggunakan kendaraan pengangkut (loading), tetapi tidak sedikit jumlahnya yang memilih jalan satria dengan mengayuh sepeda langsung dari titik nol daerah asalnya. Bagi mereka, kerasnya aspal perjalanan menuju Bogor merupakan bagian ritual yang tak terpisahkan dari sebuah pertemuan. Setiap kilometer yang ditaklukkan akan menjadi sebuah fragmen cerita yang siap dibagikan kepada sesama sahabat onthel di lokasi acara.
Nyala semangat itulah yang ditunjukkan langsung oleh Ketua Dewan Pengurus Pusat (DPP) KOSTI, H. Darat Aris. Bersama rombongan sekitar 30 onthelis asal Jakarta, beliau memulai ekspedisi aspal dari Kantor DPP KOSTI di Ciracas, Jakarta Timur, menuju Kota Bogor dengan murni mengayuh sepeda tua.
Rombongan tersebut menempuh perjalanan antarkota sebagai sebuah simbol nyata bahwa semangat beronthel tidak akan pernah berhenti hanya karena halangan jarak tempuh. Mengayuh bersama, seiring sejalan, menuju sebuah lokasi kegiatan menjadi wujud nyata dari spirit persaudaraan yang selama bertahun-tahun dibangun dan dijaga oleh KOSTI.
Dari ufuk barat, konvoi rombongan onthelis asal Tangerang dan Bekasi juga mendarat dengan cara yang sama heroiknya. Mereka sepakat memilih menikmati embusan angin perjalanan di atas sadel kulit sepeda tua dibandingkan membawa kendaraan menggunakan mobil angkut yang nyaman. Bagi mereka, perjalanan di aspal adalah bagian dari perayaan itu sendiri.
Sementara itu, dari jantung bumi Priangan, muncullah para ksatria yang menamakan diri Onthelis-Onthelista Jarak Jauh (OOJJ)—para pengayuh tangguh lintas daerah yang sudah mahsyur di kalangan komunitas sebagai sosok-sosok yang urat takutnya sudah putus dan tidak pernah gentar menghadapi rute jalan seberat apa pun.
Nama-nama punggawa jalanan seperti Abah Iwan dari Sumedang, H. Dadang Subaran dari Tasikmalaya, Mang Apeh dari Bandung, dan Koh Dede dari Cianjur sukses menjadi inspirasi tersendiri dalam perhelatan BHO II ini.
Karena apa? Karena perjalanan mereka sungguh bukanlah perjalanan biasa bagi manusia pada umumnya.
H. Dadang Subaran memulai ujian fisiknya dengan harus bergelut menaklukkan curamnya tanjakan legendaris Lingkar Gentong, lalu melanjutkan kayuhan napas menyusuri rute berliku Nagreg menuju arah Bandung. Sementara itu, dari titik berbeda, Abah Iwan dengan gagah memulai rutenya dengan membelah jalur bersejarah nan mistis Cadas Pangeran, sebuah ruas jalan peninggalan era Daendels yang sejak dahulu diakui memiliki kontur yang siap menguji batas kekuatan setiap pesepeda.
Luar biasanya, setelah melewati rintangan "monster" di daerah masing-masing, takdir rute perjalanan pada akhirnya menuntut H. Dadang dan Abah Iwan untuk menyusul dan bergabung bersama Mang Apeh dan Koh Dede dalam menghadapi ujian paripurna yang sama: menembus ganasnya kabut dan dinginnya Jalur Puncak Pass.
Ya, dari mana pun titik awal mereka di wilayah Priangan, pada akhirnya mereka semua harus bermuara di jalur yang sama. Mereka bahu-membahu membelah tanjakan ekstrem dan menahan laju di turunan tajam pegunungan Puncak demi bisa turun merapat ke aspal Kota Bogor. Sebuah pertaruhan keseimbangan dan tenaga yang luar biasa, sembari menikmati panorama kebun teh di atas sepeda yang usianya jauh lebih tua daripada umur mereka sendiri.
Tidak ada secuil pun keluhan yang terucap. Tidak ada riwayat kata menyerah. Karena bagi para prajurit aspal OOJJ, setiap tanjakan yang menghadang adalah sahabat yang menguatkan, setiap turunan tajam adalah hadiah, dan setiap inci perjalanan selalu berhasil menghadirkan narasi cerita baru.
Melalui keringat mereka, terbukti sudah sebuah filosofi mahal: perjalanan aspal menuju sebuah acara silaturahmi sering kali terasa jauh lebih berharga daripada acara silaturahmi itu sendiri.
Kota Bogor Menyambut Warisan Budaya
Semangat dan dedikasi luar biasa yang dipancarkan para peserta sontak mendapat sambutan yang tak kalah hangatnya dari jajaran Pemerintah Kota Bogor.
Ketua DPRD Kota Bogor bersama jajaran Ketua KORMI Kota Bogor turut hadir secara langsung di lokasi untuk memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas konsistensi komunitas sepeda tua dalam mendidik masyarakat menjaga warisan sejarah budaya, sekaligus aktif dalam mengembangkan sektor olahraga rekreasi di masyarakat.
Bagi kacamata pemerintah daerah, ajang Bogor Hujan Onthel ini dipandang bukan sekadar ajang kumpul-kumpul gowes massal bersama. Eksistensi kegiatan ini telah bertransformasi menjadi bagian strategis dari upaya pelestarian sejarah Kota Bogor, daya tarik promosi pariwisata (sport tourism), sekaligus medium kampanye ampuh mengenai gaya hidup sehat yang bebas polusi dan ramah lingkungan.
Di tangan para pesepeda tua ini, terbukti bahwa ranah olahraga sangat bisa berjalan beriringan dengan nilai-nilai pelestarian budaya.
Pagi itu, tidak ada bising letupan suara knalpot. Tidak ada kepulan karbon asap sisa pembakaran kendaraan. Harmoni yang terdengar di jalanan Bogor hanyalah paduan suara putaran rantai, gesekan gir, dentang lonceng bel sepeda, serta derai tawa riang para peserta yang saling menyapa kebaikan di sepanjang rute perjalanan karnaval.
Filosofi Onthel yang Tidak Pernah Berubah
Dalam semesta dunia sepeda tua, pangkat dan jabatan tidak akan pernah menjadi tolok ukur. Profesi dan pekerjaan di dunia nyata bukanlah sebuah alat pembeda strata kelas. Begitu pun dengan usia yang tak pernah dianggap sebagai sebuah penghalang untuk berkarya.
Semua insan yang kakinya mengayuh pedal sepeda tua di atas aspal adalah saudara sejajar.
Pemandangan inilah yang sangat kental tersaji di Bogor Hujan Onthel II. Seorang pejabat elit daerah dapat dengan santainya mengayuh sepeda sembari bergurau berdampingan dengan seorang petani desa. Seorang pengusaha sukses tampak asyik bercengkerama bersama seorang guru honorer. Sekumpulan anak-anak muda Gen-Z antusias duduk membaur menyimak petuah berbincang dengan para senior sepuh yang telah puluhan tahun mewakafkan hidupnya dalam merawat dunia sepeda tua Nusantara.
Di sana tidak ada sekat. Di sana tidak ada perbedaan kasta. Yang tersisa dan bergemuruh di sana hanyalah rasa persaudaraan. Dan sejatinya, inilah filosofi paling mahal yang selama ini dijaga mati-matian oleh panji besar KOSTI.
Merawat Sejarah dengan Cara yang Menyenangkan
Banyak kalangan terpelajar mengenal tapak tilas sejarah melalui deretan teks di dalam buku. Sebagian yang lain menengok sejarah dari balik kaca etalase museum. Namun, para onthelis memiliki cara yang sungguh berbeda dan berani.
Mereka memilih untuk menghidupkan sejarah itu ke jalanan.
Sepeda-sepeda klasik yang usianya telah mencapai puluhan hingga menyentuh angka ratusan tahun itu tidak dibiarkan menjadi rongsokan mati. Ia tetap dirawat, direstorasi presisi, dicuci bersih, digunakan, bahkan diajak menjelajah melintasi aspal dari satu kota ke kota lainnya. Praktis, setiap kayuhan mereka berubah rupa menjadi media edukasi berjalan bagi masyarakat umum, terkhusus bagi generasi muda.
Tidak sedikit terlihat anak-anak kecil yang berdiri terpukau di tepi jalan raya, bertanya antusias kepada orang tuanya mengenai bentuk sepeda-sepeda tua berseragam antik yang tengah melintas dalam iring-iringan karnaval.
Dari benih pertanyaan sederhana dan rasa penasaran itulah, kelak kecintaan terhadap sejarah dan kebanggaan akan warisan masa lalu mulai tumbuh subur. Sepeda tua pada akhirnya sukses menempatkan dirinya sebagai jembatan yang menghubungkan romansa masa lalu yang mulai pudar dengan peradaban masa depan.
Sport Tourism Berbasis Budaya
Bogor Hujan Onthel II juga seakan menjadi showcase yang memperlihatkan bahwa solidnya komunitas sepeda tua mampu bertindak sebagai motor penggerak utama sektor sport tourism (pariwisata olahraga) yang berbasis pada budaya.
Arus kedatangan ribuan peserta beserta rombongan keluarganya dari berbagai penjuru kota bahkan luar Pulau Jawa secara otomatis memberikan suntikan dampak ekonomi positif yang masif bagi sektor pariwisata perhotelan, pengusaha kuliner UMKM, serta ekonomi masyarakat Kota Bogor secara umum.
Mereka tidak hanya menghabiskan waktu mengikuti rute gowes, tetapi juga terpantau asyik menikmati berbagai destinasi wisata di Kota Bogor, berburu dan mencicipi ragam kuliner khas setempat, berbelanja oleh-oleh, dan pada akhirnya akan membawa pulang sekeranjang memori cerita yang akan mereka promosikan dan bagikan kembali kepada komunitas di daerah asalnya masing-masing.
Inilah potret pembuktian bentuk nyata bahwa olahraga masyarakat jika dikelola dengan serius dapat menjelma menjadi instrumen efektif pelestarian budaya, yang sekaligus bertindak sebagai mesin penggerak perekonomian daerah.
Sukses Menjalin Silaturahmi Pecinta Sepeda Tua
Rangkaian acara yang berlangsung sejak Sabtu, 20 Juni hingga Minggu, 21 Juni 2026 ini berjalan dengan sangat sukses dan dinaungi atmosfer kebersamaan yang teramat kental. Hal tersebut disampaikan langsung dengan penuh rasa syukur oleh Ketua KOSTI Bogor, Ir. Agus Iwan Mokhamad, selaku tuan rumah perhelatan akbar ini.
Beliau menuturkan bahwa para peserta dari berbagai penjuru Onthelista Nusantara dan lintas komunitas telah berkumpul di Kota Bogor dengan satu niat yang mulia: merajut silaturahmi, mempererat persaudaraan, serta melestarikan budaya bersepeda klasik yang sarat akan nilai sejarah.
Salah satu momen epik yang paling membekas dalam perhelatan ini adalah keberhasilan rombongan besar onthelis menembus dan memadati kawasan Kebun Raya Bogor. Dibelai oleh suasana sejuk dan kanopi pepohonan raksasa khas Kota Hujan, para peserta menikmati kayuhan perlahan sembari mengagumi keindahan taman botani bersejarah yang telah menjadi kebanggaan tak ternilai bagi bangsa Indonesia tersebut.
Tidak hanya sekadar menjadi ajang bersepeda massal, Ir. Agus Iwan Mokhamad menambahkan bahwa kegiatan ini sukses menjelma menjadi wadah bertemunya para pecinta sepeda tua dari berbagai daerah. Di bawah rimbunnya pepohonan Bogor, mereka saling bertukar pengalaman, berdiskusi mengenai pernak-pernik restorasi, mengenang sejarah perkembangan sepeda onthel, serta menguatkan kembali simpul persaudaraan antarpaguyuban.
Menutup perhelatan yang luar biasa ini, beliau menitipkan pesan penuh semangat bagi seluruh keluarga besar pesepeda tua di Tanah Air.
"Masih terdapat beberapa kekurangan bahan perbaikan dimasa depan semoga Bogor Hujan Onthel ke-2 ini menjadi semangat baru bagi kita semua untuk terus menjaga kekompakan, melestarikan warisan budaya bersepeda tua, dan menjadikan Bogor sebagai salah satu destinasi favorit para onthelis Nusantara. Sampai jumpa di kegiatan dan rute aspal berikutnya. Salam sehat dan salam onthel!"
SEMUA SAUDARA 🇮🇩 🚲
Posting Komentar