Tim Media KOSTI kali ini meliput catatan perjalanan epik dari dua Onthelis Onthelista Jarak Jauh (OOJJ) kebanggaan Jawa Barat: Mang Apeh dari Bandung dan Pak Dede dari Cianjur. Keduanya merapat ke Kota Bogor untuk mengukir sejarah di aspal Kota Hujan.
Perjalanan heroik ini dimulai pada hari Jumat. Mang Apeh bertolak dari Bandung dan singgah di Kota Cianjur untuk menjemput rekan seperjuangannya, Pak Dede. Dari sana, mereka bahu-membahu menaklukkan Jalur Puncak. Rute legendaris yang bersandar di kaki Gunung Gede dan Pangrango ini sudah sangat tersohor di seantero republik karena tanjakannya yang panjang, curam, dan tak kenal ampun.
Yang membuat ekspedisi ini luar biasa adalah tunggangan mereka. Mang Apeh dengan gigih mengayuh sepeda lipat klasiknya. Sementara itu, Pak Dede tampil nyentrik dan berani dengan Penny Farthing kebanggaannya—sepeda klasik beroda depan raksasa yang rekam jejaknya sudah melalang buana hingga ke Kota Tulungagung.
Kali ini, kemudi diarahkan menuju Kota Bogor demi menghadiri Festival Bogor Hujan Onthel (BHO) yang diselenggarakan akhir pekan ini. Sebuah perhelatan akbar yang menawarkan rute gowes melintasi ikon-ikon bersejarah seperti Kebun Raya dan megahnya Istana Bogor.
Tanjakan berliku dan padatnya kendaraan di Jalur Puncak sama sekali tidak mengurungkan niat mereka. Maklum, kedua veteran ini bulan lalu baru saja membuktikan mental bajanya di ajang internasional IVCA 2026. Saat itu, Pak Dede menempuh Jalur Selatan penuh dari Cianjur menuju Prambanan (Klaten), sementara Mang Apeh membelah Jalur Utara-Tengah melintasi Cirebon, Brebes, Banyumas, hingga tembus ke Kebumen.
Bagi Mang Apeh dengan sepeda lipatnya beroda kecil, menahan laju dan menjaga keseimbangan di turunan berliku adalah pertaruhan yang menguras tenaga. Ujian yang lebih mendebarkan dialami oleh Pak Dede. Mengendarai Penny Farthing di jalan menurun menuntut teknik tingkat tinggi. Karena pedal menyatu mati dengan poros roda depan, kaki tidak boleh berdiam diri; ia harus terus berputar mengikuti putaran roda depan yang melesat cepat di jalan menurun.
Perjalanan ini tak hanya memeras keringat secara fisik akibat tanjakan elevasi tinggi, tetapi juga menguras pikiran karena membutuhkan fokus dan konsentrasi absolut di setiap incinya.
Namun, buah dari ketekunan itu terbayar lunas. Dengan penuh perjuangan dan doa keselamatan, Mang Apeh dan Pak Dede akhirnya menyentuh garis tujuan di Kota Hujan dengan selamat. Senyum kelegaan terpancar saat mereka disambut dengan pelukan hangat persaudaraan oleh Ketua KOSTI Bogor, Pak Iwan.
Sebuah kisah perjalanan yang kembali membuktikan bahwa batas kemampuan seorang onthelis tidak ditentukan oleh jenis sepeda yang ditunggangi, melainkan oleh sebesar apa nyali dan tekad persaudaraan di dalam dadanya.
Satu Onthel Satu Rasa
Semua Saudara 🇮🇩 🚲
Posting Komentar