Pagi 24 Maret 2018 di Pantai Anyer, Banten, menjadi awal dari sebuah perjalanan yang hingga kini masih dikenang oleh para ontelis Indonesia. Di titik nol itu, sepuluh pesepeda tua berdiri dengan satu misi: mengantarkan Trophy International Veteran Cycle Association (IVCA) menuju Bali.
Perjalanan ini dikenal sebagai Kirab Estafet IVCA 2018, sebuah misi yang memadukan ketahanan fisik, manajemen tim, dan semangat kebersamaan dalam satu lintasan panjang: Anyer – Sanur.
Perjalanan Panjang dalam Angka
Kirab ini berlangsung selama 20 hari, dari 24 Maret hingga 12 April 2018, dengan total jarak tempuh 1.200 kilometer.
Di balik perjalanan tersebut, terdapat tim kecil yang solid:
- 10 orang Tim Inti (pengayuh penuh)
- 3 orang tim forwarder + 1 minibus
- 2 orang tim logistik & evakuasi + 1 pick up
- 2 orang tim supervisi & humas
Total hanya belasan orang. Namun mereka memikul tanggung jawab besar: memastikan trophy IVCA tiba tepat waktu di Bali untuk pembukaan ajang internasional.
Dari Anyer: Awal yang Langsung Menguji
Panas jalanan, lalu lintas padat, dan kondisi sepeda tua langsung menguji kesiapan fisik peserta. Namun perjalanan tidak memberi ruang untuk ragu.
Hari demi hari, rombongan melaju di jalur pantura:
- Jakarta – Karawang (75 KM)
- Karawang – Indramayu (165 KM)
- Indramayu – Tegal (135 KM)
- Tegal – Pekalongan – Kendal
Di sepanjang jalan, masyarakat menyambut. Tidak selalu dengan kemeriahan besar, tetapi dengan kehangatan yang tulus—lambaian tangan, senyuman, hingga ajakan singgah.
Hal-hal sederhana itu menjadi energi yang tak tergantikan.
Etape Terberat: Ketika Fisik dan Mental Diuji
Ini adalah etape terpanjang sepanjang kirab.
Dengan sepeda tua, jarak tersebut bukan sekadar angka. Ia adalah ujian nyata. Kelelahan memuncak, tenaga terkuras, dan jalan terasa tak berujung.
Namun tidak ada yang berhenti.
Yang membuat mereka terus bergerak bukan hanya kekuatan kaki, tetapi kekuatan kebersamaan. Saling menunggu, saling menyemangati, dan saling menjaga ritme.
Recovery: Kunci Bertahan Hingga Akhir
Perjalanan panjang ini tidak dilakukan tanpa strategi. Tim menetapkan beberapa titik recovery untuk menjaga kondisi:
- Kendal – Semarang
- Sidoarjo
- Banyuwangi
Di titik-titik ini, kayuhan berhenti sejenak. Namun justru di sinilah cerita mengalir—tentang perjuangan di jalan, tentang keluarga yang menunggu di rumah, dan tentang mimpi membawa nama Indonesia ke panggung dunia.
Menuju Ujung Jawa dan Menyeberang ke Bali
Memasuki Jawa Timur, perjalanan mendekati fase akhir:
- Surabaya – Kraksaan (90 KM)
- Kraksaan – Situbondo (100 KM)
- Situbondo – Banyuwangi (76 KM)
Secara jarak, ini adalah etape terpendek. Namun secara makna, ini adalah titik penting—perpindahan dari Pulau Jawa ke Bali.
Sebuah simbol bahwa garis akhir semakin dekat.
Denpasar dan Sanur: Akhir yang Mengharukan
Tanggal 11 April 2018, rombongan melakukan Kirab Keliling Kota Denpasar. Suasana berubah. Dari perjalanan penuh perjuangan menjadi perayaan.
Dan akhirnya, pada 12 April 2018, rombongan tiba di Pantai Sanur, Bali.
Trophy IVCA sampai di tujuan.
Tidak ada euforia berlebihan. Hanya rasa haru yang perlahan memenuhi ruang. Setelah 20 hari dan 1.200 kilometer, perjalanan itu akhirnya selesai.
Lebih dari Sekadar Perjalanan
Jika dilihat dari data, kirab ini adalah:
- 20 hari perjalanan
- 1.500 kilometer
- puluhan kota dilintasi
Namun jika dilihat dari hati, kirab ini adalah:
- tentang ketahanan saat lelah
- tentang kebersamaan yang menguatkan
- tentang semangat menjaga warisan budaya
Penutup: Kenangan yang Terus Hidup
Hari ini, Kirab Trophy IVCA 2018 mungkin telah menjadi bagian dari sejarah. Namun bagi para ontelis, perjalanan itu tidak pernah benar-benar selesai.
Ia hidup dalam cerita, dalam kenangan, dan dalam setiap kayuhan sepeda tua yang masih melintasi jalanan Indonesia.
Karena pada akhirnya, kirab ini bukan hanya tentang membawa trophy dari Anyer ke Sanur.
Tetapi tentang membawa semangat—dari satu generasi ke generasi berikutnya.



Posting Komentar