Saatnya Kembali Mengayuh Sepeda

  

                          (Detik Jabar)

Ditulis oleh A. Iwan Mokhamad R

Kota yang Penuh Mesin dan Lupa Diri

Setiap kali aku menyusuri jalan raya di kota besar, satu hal yang selalu menggangguku: raungan mesin dan asap knalpot yang tak pernah berhenti. Seolah-olah kita hidup dalam dunia yang tak lagi mengenal diam, tak lagi memberi ruang bagi udara segar atau napas manusia yang tenang. Kita hidup dalam masa di mana mesin telah mengendalikan kehidupan. Mobil, motor, pabrik, hingga peralatan rumah tangga — semuanya bergerak dengan tenaga bahan bakar fosil. Ironisnya, kemajuan ini membuat kita semakin cepat, tetapi juga semakin jauh dari keseimbangan.

Padahal, dulu manusia bergerak dengan cara yang lebih sederhana dan sehat: dengan kaki dan dengan sepeda. Kini, alat itu dianggap kuno, meski justru di sanalah terletak kebijaksanaan lama yang kita abaikan.

Belajar dari Negara yang Sudah Jenuh dengan Mesin

Jika kita melihat ke Eropa, kita akan menemukan pelajaran penting tentang bagaimana pemerintah memegang peranan utama dalam membangun budaya bersepeda. Negara-negara maju seperti Belanda, Jerman, Belgia, Inggris, dan Italia pernah melewati masa-masa kemajuan teknologi mesin yang pesat, dan mereka pun sempat terjebak dalam dampak buruknya: kemacetan ekstrem, polusi udara berat, serta menurunnya kualitas hidup warga kota.

Namun, berbeda dari banyak negara berkembang, pemerintah di Eropa tidak tinggal diam. Mereka melakukan reorientasi kebijakan transportasi nasional dan menata ulang tata ruang kota dengan visi keberlanjutan. Prinsip dasarnya sederhana: kota harus kembali ramah bagi manusia, bukan hanya bagi kendaraan bermotor.

Pemerintah negara-negara tersebut kemudian menetapkan kebijakan strategis lintas sektor — dari transportasi, energi, hingga tata ruang — untuk mendorong masyarakat berpindah dari kendaraan pribadi ke moda transportasi publik dan sepeda. Beberapa langkah nyata yang diterapkan antara lain:

  1. Membatasi penggunaan mobil pribadi dengan regulasi ketat, pembatasan area kota, dan pajak kendaraan yang tinggi.
  2. Mengembangkan transportasi massal yang efisien dan nyaman, agar masyarakat punya pilihan yang layak selain kendaraan pribadi.
  3. Meningkatkan efisiensi mesin dan energi kendaraan melalui standar emisi nasional yang wajib dipatuhi.
  4. Mengalihkan energi kendaraan ke sumber yang lebih bersih, seperti listrik, biofuel, atau hidrogen.
  5. Membangun terminal dan simpul transportasi terpadu yang terhubung langsung dengan kawasan perkantoran, perdagangan, dan permukiman.
  6. Menetapkan jalur sepeda dan jalur pejalan kaki sebagai bagian dari infrastruktur utama, bukan sekadar fasilitas tambahan.
  7. Menyediakan area parkir sepeda di tempat publik strategis seperti stasiun, terminal, sekolah, dan pusat kota, disertai sistem keamanan yang baik.

Semua kebijakan itu bukan muncul spontan, melainkan hasil dari keberanian politik jangka panjang. Pemerintah di sana memahami bahwa perubahan perilaku masyarakat harus diawali dari kebijakan yang berpihak — membatasi yang merusak, sekaligus memudahkan yang bermanfaat.

Kini hasilnya bisa kita lihat: di Amsterdam, Brussel, dan Berlin, bersepeda menjadi bagian dari sistem transportasi nasional. Jalur sepeda dibangun sejajar dengan jalan raya, terintegrasi dengan stasiun dan halte bus. Pemerintah bahkan memberi insentif pajak bagi warga yang bersepeda ke kantor.

Dengan kata lain, budaya bersepeda tumbuh bukan karena tren masyarakat, melainkan karena keputusan politik yang visioner — keputusan untuk menjaga bumi, kesehatan, dan kualitas hidup warganya.

                                                                           (Sumber: Bicycle Dutch)


Indonesia dan Budaya yang Pernah Hilang

Indonesia pernah punya budaya bersepeda yang kuat. Generasi sebelum kita tumbuh dengan sepeda: pergi ke sekolah, ke sawah, ke pasar, bahkan ke tempat kerja dengan onthel tua. Namun kemudian, sepeda tersingkir oleh motor murah dan mobil pribadi. Kemajuan yang datang tanpa keseimbangan membuat kota-kota kita menjadi bising, panas, dan sesak.

Kini kita baru sadar, bahwa setiap kemudahan yang kita nikmati punya harga mahal: polusi, kemacetan, dan hilangnya kesehatan sosial. Kita sudah mencoba berbagai cara untuk memperbaiki keadaan — dari Car Free Day di Jakarta hingga program “Jumat Bebas Polusi” di Malang. Langkah-langkah itu baik, tapi belum cukup. Budaya bersepeda tidak bisa tumbuh hanya lewat acara mingguan. Ia harus menjadi sistem, kebiasaan, bahkan gaya hidup.

Pemerintah Boleh Membangun, Tapi Masyarakat Harus Bergerak

Sering kali kita berharap pemerintah menyiapkan jalur sepeda, memperbaiki transportasi publik, atau membuat aturan ramah lingkungan. Tentu saja, itu penting. Namun budaya tidak bisa dibangun hanya dengan regulasi — budaya lahir dari kesadaran kolektif.

Kita bisa mulai dari hal kecil: memilih bersepeda ke kantor seminggu sekali, mendorong sekolah agar menyediakan parkiran sepeda, atau sekadar mengajarkan anak-anak mencintai kegiatan bersepeda sejak dini. Satu langkah kecil bisa menyalakan perubahan besar. Sebab di balik kayuhan pedal, ada filosofi yang dalam: gerak lambat tapi pasti, ringan tapi bermakna.

Peran Komunitas dan Gerakan Onthel

Di titik ini, komunitas sepeda menjadi motor kebangkitan. Gerakan seperti Komunitas Sepeda Tua Indonesia (KOSTI), Bike to Work, atau kelompok-kelompok lokal di Ciamis, Yogyakarta, dan Malang telah membuktikan bahwa sepeda bukan hanya alat, tapi pengikat solidaritas.

KOSTI, misalnya, bahkan membawa semangat ini ke panggung dunia — berpartisipasi dalam International Veteran Cycling Association (IVCA) di Belgia dan Belanda. Para onthelis Indonesia datang dengan busana tradisional Jawa, menunjukkan bahwa bersepeda bisa berpadu dengan kebanggaan budaya. Kisah itu menyadarkan kita: sepeda adalah warisan budaya, bukan sekadar kendaraan. Dan budaya itu tak boleh mati hanya karena kita terlalu sibuk mengisi bensin.

                                                                    (Vredeberg.id)


Kembali Mengayuh, Kembali Menjadi Manusia

Bersepeda mengajarkan kesederhanaan: bahwa jarak bisa ditempuh tanpa merusak bumi, dan bahwa kebahagiaan tidak perlu bahan bakar. Setiap kali aku melihat orang bersepeda di jalan, aku merasa sedang melihat potret manusia yang utuh — manusia yang masih sadar akan tubuhnya, lingkungannya, dan sesamanya.

Kita tidak perlu menunggu perubahan besar. Kita hanya perlu kembali mengayuh, satu pedal demi satu pedal. Karena di situlah sesungguhnya kebahagiaan sederhana itu hidup.

Penutup: Mengayuh untuk Masa Depan

Budaya bersepeda adalah cermin dari peradaban yang sehat dan beradab. Ia menyatukan manusia dengan alam, mengembalikan keseimbangan yang lama hilang. Dan seperti semua budaya, ia tidak tumbuh dari kebijakan, tapi dari kesadaran.

Mungkin sekarang waktunya kita berhenti sejenak dari kebisingan mesin, mengambil sepeda tua di garasi, dan kembali menapaki jalan dengan tenang. Sebab di antara deru knalpot dan beton kota, bumi masih menunggu satu hal dari kita: sebuah kayuhan yang tulus.


🖋️ Ditulis oleh A. Iwan Mokhamad R – Komunitas Onthel Community (Oncom Bogor). 

Anda bisa ikut berpartisipasi mengirim cerita, foto, atau pengalaman ngonthelmu melalui formulir berikut:
👉 Kirim Ceritamu di sini

Dan jangan lupa bergabung di kanal kami agar tidak ketinggalan kisah inspiratif lainnya:
👉 WA Channel Media Kosti


0/Post a Comment/Comments