Maret 2013 adalah bulan yang tak pernah lepas dari ingatan saya. Saat itu, saya berangkat dari Lampung bersama kontingen KOSTI Lampung, membawa satu semangat sederhana: menghadiri Bandoeng Laoetan Onthel III (BLO III) di Lapangan Gasibu, Bandung. Namun yang saya alami jauh melampaui sekadar hadir dalam sebuah festival. Itu adalah momen ketika mata dunia benar-benar melihat Indonesia melalui sepeda tua.
Selama dua hari, 23–24 Maret 2013, Bandung berubah menjadi lautan onthel. Lebih dari sepuluh ribu pesepeda klasik dari seluruh Indonesia berkumpul. Dari Sabang sampai Merauke, berbagai klub hadir dengan kostum, karakter, dan cerita masing-masing. Kontingen Lampung, termasuk Paguyuban Onthel Ria Metro dan Potret, ikut menjadi bagian dari gelombang sejarah itu.
Tetapi yang membuat BLO III berbeda adalah kehadiran tamu mancanegara. Sekitar 120 onthelis dari Belanda, Perancis, Inggris, Malaysia, dan negara lainnya datang secara kontingen maupun individu. Mereka bukan sekadar peserta; beberapa di antaranya adalah kolektor, peneliti, dan pakar sepeda klasik dunia.
Saya masih ingat jelas momen Meet & Greet – Onthels Around the World. Di sebuah ruangan hotel di Bandung, saya berdiri berdampingan dengan para tokoh sepeda klasik dunia. Di sana hadir Andre Koopmans, Jos Rietveld, Theo de Kogel, Otto Beajoun, Colin Kirsch, Ralph A Boreham, serta Presiden IVCA, Alain Charles Albin Cuvier.
Bagi saya, itu bukan sekadar sesi foto. Itu adalah ruang belajar. Mereka berbicara tentang sejarah manufaktur sepeda Eropa, tentang detail lug frame, nomor seri, metode identifikasi produksi, hingga bedah forensik sepeda tua. Saya yang datang sebagai onthelis dari Lampung merasa seperti mahasiswa di kelas internasional—belajar langsung dari para maestro.
Yang membuat saya terharu adalah cara mereka memandang Indonesia. Mereka kagum melihat bagaimana sepeda tua—yang di negara asalnya mungkin hanya menjadi koleksi museum—di Indonesia justru hidup. Digunakan, dirawat, dipamerkan, bahkan dirayakan dalam skala puluhan ribu orang. Mereka melihat kecintaan yang organik, bukan sekadar hobi elitis.
Sebagai peserta, saya merasakan getaran yang sulit dijelaskan. Saat ribuan sepeda dikayuh bersama, suara gir dan rantai seolah menjadi orkestra besi. Kami bukan hanya bersepeda; kami sedang merawat sejarah.
Ada satu momen yang sangat membekas bagi saya: ketika berdiri bersama para tamu luar negeri mengenakan kaos resmi acara, berfoto dalam satu barisan. Saya sadar, jarak Lampung–Bandung yang saya tempuh bukanlah apa-apa dibanding jarak Eropa–Indonesia yang mereka lintasi. Namun di ruangan itu, semua jarak melebur. Yang tersisa hanya kecintaan pada sepeda tua.
Kini, lebih dari satu dekade berlalu, kenangan itu tetap hangat. Setiap kali saya melihat kembali foto-foto Meet & Greet tersebut, saya teringat satu hal: pada Maret 2013, saya tidak hanya hadir sebagai Tutut Zatmiko dari Lampung. Saya hadir sebagai bagian dari Indonesia yang sedang menunjukkan kepada dunia bahwa sejarah bisa dikayuh bersama.
Dan bagi saya pribadi, itulah kayuhan paling berharga dalam perjalanan sebagai onthelis.
Oleh: Tutut Zatmiko, Onthelis Lampung
.
Dan jangan lupa bergabung di kanal kami agar tidak ketinggalan kisah inspiratif lainnya:
👉 WA Channel Media KOSTI




Posting Komentar