Di tengah dunia yang masih sering diwarnai oleh berbagai konflik dan ketegangan antarbangsa, sebuah perjalanan sederhana dengan mengayuh sepeda justru sanggup menghadirkan pesan yang jauh lebih kuat daripada ribuan retorika kata.
Pesepeda asal Iran, Arezoo, memilih Indonesia sebagai bagian dari rute perjalanan panjangnya mengelilingi dunia. Ia mengayuh bukan untuk berlomba mengejar garis finis, melainkan untuk membawa satu misi universal: menyebarkan pesan perdamaian, merajut persahabatan, dan memupuk rasa saling memahami antar umat manusia.
Kisahnya menjadi sebuah inspirasi mendalam bahwa sepeda tidak hanya mampu menghubungkan satu kota dengan kota lainnya, tetapi juga memiliki keajaiban untuk menjembatani hati manusia dari berbagai latar belakang budaya.
Sepeda Menjadi Bahasa Universal
Bagi para pecinta sepeda klasik yang bernaung di bawah panji Komunitas Sepeda Tua Indonesia (KOSTI), perjalanan heroik seperti yang dilakukan Arezoo tentu memiliki resonansi makna yang sangat dekat.
Di atas sadel roda dua, perbedaan bahasa, keragaman budaya, agama, maupun status kewarganegaraan seolah melebur menjadi satu entitas. Yang tersisa di jalanan hanyalah sapaan hangat, senyum persaudaraan, serta rasa saling menghargai sesama penjelajah aspal.
Semangat universal inilah yang selama ini juga menjadi ruh penggerak KOSTI melalui berbagai kegiatan touring, silaturahmi kebangsaan, bakti sosial, pelestarian sejarah, hingga penyelenggaraan event bersejarah tingkat dunia seperti IVCA Rally 2026 dan International Cycling History Conference (ICHC) di kawasan Candi Prambanan, Klaten.
Menikmati Perjalanan, Bukan Sekadar Mencapai Tujuan
Dalam setiap etape perjalanannya, Arezoo memilih filosofi untuk tidak terburu-buru. Baginya, sebuah perjalanan bukanlah sekadar ambisi untuk mencapai tujuan akhir, melainkan seni menikmati setiap kilometer proses yang dilalui.
Ia menyempatkan diri untuk berhenti dan berinteraksi dengan masyarakat lokal, mengenal denyut budaya setiap daerah, mencicipi kuliner tradisional, menikmati panorama alam Nusantara yang eksotis, hingga mendengarkan kisah-kisah hidup dari orang-orang biasa yang ditemuinya di sepanjang rute.
Pendekatan empati inilah yang menjadikan touring sepeda memiliki bobot nilai yang jauh lebih dalam dibanding sekadar olahraga fisik. Setiap kayuhan pedal berubah menjadi ruang belajar, ruang berbagi pengalaman, sekaligus ruang untuk membangun fondasi persahabatan lintas batas.
Indonesia di Mata Pesepeda Dunia
Indonesia sukses menjadi salah satu negara yang berhasil mengukir kesan paling mendalam di hati Arezoo.
Keramahan masyarakat lokal yang tulus, keberagaman budaya yang kaya, serta keindahan alam tropis yang memanjakan mata menjadi pengalaman spiritual yang sulit ia lupakan. Dari hiruk-pikuk kota besar hingga kesunyian pelosok desa, ia selalu merasakan sambutan hangat dari masyarakat yang selalu membuka pintu bagi para pesepeda.
Hal tersebut menjadi bukti sahih bahwa budaya bersepeda mampu menjadi bentuk diplomasi akar rumput (people-to-people diplomacy) yang sangat efektif dalam memperkenalkan wajah asli Indonesia: bangsa yang ramah, berbudaya luhur, dan memiliki semangat gotong royong yang tinggi.
Semangat yang Selaras dengan Filosofi KOSTI
Apa yang dilakukan oleh Arezoo sejatinya adalah cerminan yang sangat selaras dengan filosofi Komunitas Sepeda Tua Indonesia.
Bagi KOSTI, sepeda tua (onthel) bukan sekadar benda koleksi mati atau alat transportasi usang dari masa lalu. Ia adalah warisan budaya bergerak yang harus terus dijaga nyawanya. Melalui sepeda tua, terbukalah ruang yang luas untuk membangun persaudaraan, melestarikan sejarah, mengenalkan budaya Indonesia ke panggung dunia, sekaligus mempertebal rasa cinta Tanah Air.
Hal itu terbukti secara nyata dalam berbagai pergerakan nasional yang dilakukan para Onthelis Nusantara, termasuk epik perjalanan ribuan kilometer menuju IVCA Rally 2026, yang sukses mempertemukan lautan manusia dari berbagai provinsi hingga mancanegara.
Mengayuh Perdamaian dari Indonesia untuk Dunia
Perjalanan Arezoo menjadi alarm pengingat bagi kita semua bahwa dunia saat ini membutuhkan lebih banyak ruang untuk saling mengenal daripada ruang untuk saling mencurigai.
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi yang memacu segala hal menjadi serba instan, perjalanan lambat menggunakan sepeda justru mengajarkan kita arti pentingnya memperlambat langkah (slow living) agar dapat benar-benar meresapi makna kehidupan.
Setiap kayuhan menghadirkan kesempatan emas untuk bertemu orang baru, mempererat tali persaudaraan, dan membuktikan kepada dunia bahwa perbedaan bukanlah alasan untuk saling membelakangi.
Sepeda Menyatukan Dunia
Bagi keluarga besar KOSTI, kisah Arezoo ini memancarkan inspirasi bahwa komunitas sepeda memiliki kapasitas peran yang jauh lebih masif daripada sekadar berkumpul dan berkeringat bersama.
Melalui setiap perjalanan, para pesepeda sesungguhnya sedang menjalankan tugas suci sebagai duta persahabatan, garda pelestari budaya, sekaligus pembawa pesan perdamaian. Karena pada akhirnya, roda sepeda tidak pernah mengenal batas teritorial negara. Yang dikenalnya hanyalah hamparan aspal jalan, persaudaraan, sejarah masa lalu, dan harapan murni agar dunia terus bergerak maju menuju kehidupan yang lebih damai.
Semoga nyala semangat yang dibawa oleh Arezoo ini dapat terus menginspirasi seluruh Onthelis dan Onthelista di Indonesia untuk menjadikan setiap perjalanan sebagai medium silaturahmi, sarana edukasi, diplomasi budaya, dan pengabdian tanpa henti kepada masyarakat.
Satu Onthel Satu Rasa
Semua Saudara 🇮🇩 🚲
Posting Komentar