GOMBONG — Gowes pagi di hari libur 1 Muharram ini terasa begitu berbeda. Sinar matahari lembut menyapa bulir-bulir padi yang menguning siap panen, memancarkan kemilau keemasan yang menggambarkan keagungan Sang Pencipta. Pedal berhenti berputar sejenak, mengajak hati untuk mensyukuri anugerah kehidupan.
Pemandangan ini membawa ingatan terbang jauh ke masa lalu. Mengingat kembali bagaimana mendiang bapak dan ibu mengelola sawah dengan penuh keringat agar anak-anaknya dapat mengecap pendidikan. Petani, di zamannya, adalah Penyangga Tatanan Negara Indonesia—sebuah istilah yang dicetuskan Bung Karno pada 1952 untuk menegaskan peran vital sektor pangan bagi kedaulatan bangsa.
Teringat jelas dialog sederhana di ruang makan tempo dulu: "Le, bayar SPP bulan apa?" tanya ibu dengan lembut. Sebuah masa yang indah, penuh perencanaan yang jujur, jauh sebelum era "pinjol" mewabah seperti hari ini.
Benteng Van der Wijck dan Surga Duniawi
Perjalanan berlanjut. Aroma segar uap embun pagi membawa semangat untuk segera menyongsong Benteng Van der Wijck di depan mata. Benteng segi delapan yang dibangun antara tahun 1830-1835 ini bukan sekadar bangunan militer, melainkan saksi bisu sejarah pasca-Perang Diponegoro.
Dahulu, seorang penulis pernah menggambarkan keindahan lokasi ini dalam artikel De Viering van Het Vijftig Jarig Bestaan Van Het Korps Pupillen te Gombong (1898):
Alam Jawa memang menyimpan magnet yang tak pernah habis. Tak salah jika Michael McMillan dalam bukunya A Journey to Java (2018) menegaskan: "Lihatlah - Jawa - baru boleh Mati!"
Hari ini, kami tidak sekadar mengayuh sepeda. Kami sedang merawat ingatan, menghormati sejarah, dan mencintai tanah air melalui setiap putaran roda onthel di Gombong yang damai.
Posting Komentar