Minggu, 14 Juni 2026, menjadi hari yang sangat berkesan bagi saya. Pagi itu, saya mengajak putra saya yang masih duduk di bangku kelas IV Sekolah Dasar untuk melakukan sebuah gowes sederhana menuju Kecamatan Manonjaya, Kabupaten Tasikmalaya.
Perjalanan ini terasa istimewa karena kami hanya berdua. Saya mengayuh sepeda tua Humber kesayangan, sementara putra saya bersemangat mengendarai sepeda BMX miliknya. Bagi sebagian orang, perjalanan ini mungkin sekadar rekreasi bersepeda akhir pekan. Tetapi bagi kami, setiap putaran kayuhan adalah sebuah kesempatan belajar, menikmati lukisan alam, sekaligus mengenalkan sejarah yang sebenarnya berada begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari kita.
Menyusuri Jembatan Bersejarah Cirahong
Rute pagi itu membawa kami menukik menuju salah satu ikon bersejarah yang membelah perbatasan Kabupaten Ciamis dan Kabupaten Tasikmalaya, yaitu Jembatan Cirahong.
Jembatan monumental yang dibangun oleh Staatsspoorwegen pada tahun 1893 ini bukan sekadar alat penghubung dua wilayah. Usianya yang telah melampaui 130 tahun menjadikannya sebagai salah satu saksi bisu perkembangan peradaban dan transportasi di Pulau Jawa.
Keunikan Jembatan Cirahong terletak pada fungsinya yang ganda (double deck). Bagian atas difungsikan sebagai jalur perlintasan kereta api lintas selatan, sedangkan lorong bagian bawah dimanfaatkan sebagai jalan penghubung bagi mobilitas masyarakat. Dari kejauhan, konstruksi baja berwarna gelap yang membentang gagah di atas aliran Sungai Citanduy ini menghadirkan lanskap pemandangan yang begitu memukau.
Bagi saya, momen paling magis di tempat ini tentu saja ketika kereta api melintas. Getaran hebat yang merambat cepat ke seluruh badan jembatan memberikan sensasi yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Berdiri menuntun sepeda di atas jembatan tua, sembari merasakan gemuruh roda besi kereta raksasa yang melintas tepat di atas kepala, menjadi sebuah pengalaman langka yang hampir tidak dapat ditemukan di tempat lain.
Demi menjaga keselamatan dan kelestarian konstruksi baja yang sudah menua ini, sejak tahun 2023, akses kendaraan roda empat secara resmi tidak lagi diperbolehkan melintas. Kini, lorong bawah Jembatan Cirahong hanya diperuntukkan bagi pejalan kaki, pesepeda, dan sepeda motor. Sebuah kebijakan yang membuat jembatan ini menjadi sangat bersahabat bagi para onthelis.
Sementara itu, ada kabar baik yang kami nikmati hari itu. Setelah dilakukan perbaikan struktural oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat, sejak April 2026, sistem lalu lintas di dalam jembatan—yang sebelumnya selalu menggunakan sistem buka-tutup bergantian—kini telah diberlakukan menjadi dua arah secara terbuka, membuat mobilitas pelintas menjadi jauh lebih lancar.
Mengenalkan Sejarah kepada Anak
Saya selalu percaya bahwa mata pelajaran sejarah tidak seharusnya hanya dikurung di dalam ruang kelas. Jalan raya yang kita lintasi, bangunan tua yang masih berdiri, hingga jembatan baja berusia ratusan tahun adalah laboratorium sejarah yang sesungguhnya.
Sepanjang perjalanan, saya menceritakan kepada putra saya tentang bagaimana Jembatan Cirahong dibangun pada era kolonial Belanda, bagaimana fungsinya berevolusi hingga era modern sekarang, serta pentingnya menjaga warisan sejarah tersebut agar tetap lestari untuk generasi berikutnya.
Melihat wajah kecilnya yang dipenuhi rasa ingin tahu membuat setiap kilometer keringat hari itu terasa begitu bermakna.
Cobaan Kecil di Desa Margaluyu
Setelah menuruni lembah menuju kawasan Desa Margaluyu, perjalanan kami sempat terhenti. Rantai sepeda BMX milik putra saya kembali terputus. Rupanya ini sudah kejadian yang kedua kalinya dalam sepekan terakhir.
Beruntung, tidak jauh dari lokasi kami berhenti terdapat sebuah bengkel sepeda rumahan. Meski harus berjalan kaki sekitar lima ratus meter sembari mendorong sepeda di tengah terik, kami tetap menikmatinya sebagai warna dari sebuah perjalanan.
Karena sang pemilik bengkel sedang mengikuti kegiatan gotong royong warga, kami harus bersabar menunggu cukup lama di teras bengkel hingga beliau kembali dan mulai menangani perbaikan sepeda BMX tersebut.
Namun, justru di sela-sela waktu menunggu itulah muncul sebuah percakapan polos yang membuat saya tersenyum lebar.
Anak saya yang mengenakan topi laken KOSTI dan memasang bendera GOES (Galuh Onthel Eling Sadaya) di belakang sepedanya tiba-tiba menatap saya dan berkata,
"Ayah, sepedaku juga sudah tua ya? Rantainya saja sering putus. Berarti aku juga sudah jadi anggota KOSTI dong?"
Saya pun tertawa lepas mendengarnya.
"Tentu boleh. Kamu anggota KOSTI Muda. Makanya sekarang kita keliling naik sepeda sambil belajar sejarah di jalan."
Kalimat polos dan sederhana dari sang anak itu membuat perjalanan hari itu terasa jauh lebih berarti dan menghangatkan dada.
Singgah di Masjid Agung Manonjaya
Setelah rantai sepeda berhasil disambung dan diperbaiki, kami kembali mengayuh menuju pusat Kecamatan Manonjaya. Setibanya di sana, kami berbelok menuju kawasan alun-alun dan menambatkan sepeda di pelataran Masjid Agung Manonjaya.
Masjid bersejarah yang mulai dibangun pada tahun 1834 dan rampung pada tahun 1837 ini merupakan salah satu peninggalan paling krusial dari rekam jejak penyebaran agama Islam di wilayah Tasikmalaya dan Priangan Timur.
Di teras masjid, saya kembali mengajak putra saya berdiskusi ringan, memahamkan kepadanya bahwa bangunan tua nan megah ini bukan sekadar tempat ibadah biasa, tetapi juga merekam jejak perjalanan panjang sejarah, budaya, dan perjuangan masyarakat yang membangunnya. Kebetulan, sesaat setelah kami tiba, azan Zuhur berkumandang syahdu. Kami pun segera mengambil wudu dan menunaikan salat berjamaah di dalam masjid yang sejuk tersebut.
Rezeki dari Sebuah Silaturahmi
Usai merampungkan salat, pandangan saya tertuju pada sesosok pria yang perawakannya terasa begitu akrab di ingatan. Ternyata beliau adalah Haji Maman, salah seorang sesepuh dan tokoh dari Komunitas Onthel Manonjaya BERKO (Boyot Elodan Roemasa Kolot).
Sungguh sebuah kebetulan yang indah, karena sudah bertahun-tahun kami tidak pernah berjumpa. Pertemuan yang sama sekali tidak direncanakan di rumah Allah itu pun langsung berubah menjadi ajang silaturahmi dan nostalgia yang hangat.
Kami banyak mengenang masa-masa kejayaan dulu, ketika komunitas GOES dari Ciamis dan BERKO dari Manonjaya rutin saling berkunjung (sowan) meramaikan berbagai agenda kegiatan sepeda tua antardaerah. Kami juga berbincang mengenai dinamika komunitas saat ini. Dengan nada sedikit sendu, Haji Maman mengakui bahwa ritme aktivitas BERKO saat ini memang mulai melambat akibat tantangan klasik: minimnya regenerasi anak muda.
Meski demikian, nyala semangat beliau terhadap sepeda tua rupanya tidak pernah padam. Saya bahkan sempat diundang untuk melihat dua koleksi besi tua kesayangannya yang masih tersimpan rapi di garasi rumah beliau, yaitu sebuah Gazelle Seri 11 yang gagah dan sebuah Humber Heren berwarna hijau dengan kondisi cat dan komponen yang masih sangat prima.
Beliau bercerita bahwa dahulu, kedua sepeda itu rutin digunakan sebagai tunggangan setia untuk pergi ke masjid, terutama di antara waktu salat Zuhur dan Asar. Namun karena faktor usia dan kesehatan yang tak lagi bisa diajak kompromi, kini kedua kuda besi itu lebih sering menghabiskan masa pensiunnya dengan beristirahat di dalam garasi.
Silaturahmi hari itu ditutup dengan sangat sempurna ketika Haji Maman menjamu kami makan siang bersama di kediamannya. Sebuah rezeki silaturahmi yang sama sekali tidak pernah kami sangka saat berangkat dari rumah pagi harinya.
Pulang dengan Hati yang Penuh
Sore harinya, perjalanan pulang kami kembali memotong rute melewati Jembatan Cirahong.
Jika saat berangkat pagi tadi kami dimanjakan oleh jalanan menurun menuju lembah Sungai Citanduy, maka saat pulang, giliran tanjakan panjang dan curam yang menanti untuk ditaklukkan. Untuk beberapa ruas tanjakan yang terlampau curam, kami terpaksa menyerah dan menuntun sepeda dengan napas tersengal.
Namun, begitulah seni dari dunia sepeda tua. Justru di balik rasa lelah dan peluh di tanjakan itulah letak kebahagiaannya bermuara. Orang Sunda memiliki pepatah yang sangat akrab dan mengakar di kalangan pesepeda tua:
"Onthel mah wayahna jadi matador. Manggih tanjakan kudu ngadorong, manggih pudunan tinggal ngagorolong."
Artinya, ketika mengendarai onthel, kita harus siap mental. Saat bertemu tanjakan, ya harus ikhlas didorong. Sedangkan saat bertemu turunan, kita tinggal duduk manis menikmati laju sepeda yang meluncur. Sesederhana itu filosofi hidup di atas pedal.
Menanamkan Cinta Sejarah Sejak Dini
Perjalanan ayah dan anak hari itu, pada hakikatnya, bukan berbicara tentang seberapa jauh jarak yang berhasil kami kayuh. Bukan pula tentang angka kilometer di jalanan. Yang paling berharga adalah terbukanya kesempatan untuk menanamkan nilai-nilai sejarah langsung kepada anak melalui pengalaman spasial yang nyata.
Mulai dari derit baja Jembatan Cirahong yang telah berdiri kokoh melintasi satu abad, hingga heningnya pilar Masjid Agung Manonjaya yang menjadi saksi bisu perkembangan Islam di Priangan Timur—semuanya menjelma menjadi ruang kelas semesta yang tidak akan pernah bisa tergantikan oleh kurikulum sekolah mana pun.
Saya menaruh harapan besar, dari perjalanan sederhana menggunakan dua roda ini, akan tumbuh dan mengakar kecintaan yang tulus terhadap rentetan sejarah, budaya, dan warisan bangsa di dalam dada anak-anak kita.
Karena, menjaga sejarah tidak harus selalu dimulai dari membaca tebalnya buku pelajaran di perpustakaan. Kadang kala, ia cukup dimulai dengan keberanian untuk mengayuh sepeda bersama, di bawah terik matahari, melintasi jalanan yang sama dengan yang pernah dilalui oleh para pendahulu kita.
SEMUA SAUDARA
Posting Komentar