Penny Farthing Melawan Jalur Selatan: Menari di Nagreg, Menembus Badai, dan Ujian di Ciamis

SERI 3 : JELAJAH SEJARAH


Oleh: Tim Media KOSTI
Arsip Perjalanan Nusantara

Perjalanan Onthelis asal Cianjur, Kang Dede Susilo, kembali menjadi magnet utama dalam pemantauan Onthelis Onthelista Jarak Jauh menuju Prambanan Klaten. Bukan hanya karena dirinya mengayuh seorang diri, tetapi mesin waktu beroda raksasa yang ia tunggangi—sebuah Penny Farthing—harus berhadapan dengan kejamnya aspal Jalur Selatan Pulau Jawa.

Dede Susilo di Bandung
Singgah pada malam pertama di kediaman Bro Anto, Bandung Timur, guna memulihkan tenaga sebelum pendakian ke selatan.

Berbeda dengan rombongan besar yang mengambil rute aman melintasi pesisir utara (Pantura), Kang Dede secara sadar memilih rute yang jauh lebih menyiksa fisik. Keputusan ini diambil karena secara geografis, Jalur Selatan dinilai lebih memotong kompas dari titik awal keberangkatannya di Cianjur.

Cianjur Bandung Nagreg Tasikmalaya Banjar Majenang Wangon Gombong Kebumen Purworejo Jogja PRAMBANAN

Pilihan jalur ini bukan berarti lebih mudah. Jalur Selatan Pulau Jawa justru dikenal memiliki karakter medan yang brutal, dengan dominasi tanjakan panjang yang menyiksa, tikungan tajam, serta jalur pegunungan yang menguras habis tenaga. Namun, justru di atas panggung aspal inilah aksi Kang Dede menyihir banyak orang.

Atraksi Langka di Turunan Nagreg

Fhoto bersama anak anak muda di jalanan sambil ngobrol Sejarah Peny Farthing


Memasuki etape tanggal 15 Mei 2026, Kang Dede berhadapan dengan salah satu momok terbesar di Jawa Barat: turunan legendaris Simpang Nagreg. Jalur menurun yang panjang dengan arus kendaraan besar yang melaju cepat ini biasanya menjadi tantangan yang menakutkan, bahkan bagi kendaraan bermotor yang dilengkapi rem hidrolik.

Namun, di tengah bisingnya deru mesin modern, hadir sebuah pemandangan surealis. Sebuah sepeda roda raksasa dari abad ke-19 meluncur dengan tenang menuruni Nagreg. Banyak pengguna jalan yang dibuat terkesima; tak sedikit pengemudi mobil dan truk memperlambat lajunya hanya untuk menyaksikan langsung sepeda klasik tersebut melintas hidup-hidup di depan mata mereka.

Dengan posisi duduk yang sangat tinggi dan sistem pengereman yang sepenuhnya mengandalkan penahanan pedal, keberhasilan Kang Dede melewati Nagreg adalah sebuah pembuktian tingkat dewa atas teknik keseimbangan dan keberanian sang Onthelis.

Menari di Lingkar Gentong

Bagaikan sebuah atraksi sirkus klasik, Penny Farthing tampak meliuk-liuk menaklukkan jalur curam Lingkar Gentong.

Perjalanan berlanjut menuju wilayah Tasikmalaya. Di kawasan Lingkar Gentong, Kang Dede kembali diuji oleh medan berat berupa tanjakan dan turunan panjang yang meliuk-liuk seperti ular.

Dari tangkapan lensa video tim pemantauan, manuver Penny Farthing Kang Dede terlihat layaknya sebuah pertunjukan seni dari masa lalu. Sepeda itu tampak menari di tikungan Gentong, merayap naik dengan stabil meski diimpit oleh raungan bus dan truk-truk logistik. Puluhan ponsel dari dalam kaca mobil mengabadikan momen magis tersebut—sebuah oase pemandangan langka di tengah hiruk-pikuk jalan raya.

“Bagi banyak orang yang melihatnya, perjalanan Kang Dede bukan lagi sekadar touring, melainkan atraksi budaya bergerak yang meniupkan nyawa pada sejarah sepeda di aspal Nusantara.”

Dihantam Badai, Bermalam di Malangbong

Hujan di Malangbong
Terpaksa menepi dan berteduh saat hujan deras disertai kabut mengguyur kawasan pegunungan Malangbong.

Namun, romansa aspal ini tidak selamanya mulus. Rencana awal untuk menembus Ciamis pada hari itu harus berantakan ketika hujan deras dan cuaca buruk mengguyur kawasan pegunungan Malangbong.

Dengan kondisi jalan yang licin bak sabun, serta menyadari bahwa karakter Penny Farthing memiliki tingkat fatalitas kecelakaan yang sangat tinggi jika dipaksakan menuruni bukit dalam kondisi basah, Kang Dede dengan bijak memilih untuk menyudahi etape hari itu dan bermalam di Malangbong demi alasan keselamatan.

Ujian Karet Ban di Warung Jeruk, Ciamis

Perbaikan Ban Penny Farthing
Kang Dede bersama dulur Onthelis berjibaku memperbaiki ban karet yang lumer akibat suhu aspal.
Singgah di Ciamis
Hangatnya persaudaraan, menyempatkan singgah di kediaman Tim Media KOSTI di Ciamis.

Keesokan harinya, roda raksasa itu kembali menggelinding menuju arah Ciamis. Namun, ujian berat belum berakhir. Di bawah terik matahari kawasan Warung Jeruk, Ciamis, Penny Farthing tersebut mengalami trouble teknis yang cukup krusial: karet ban padatnya lumer dan terlepas akibat gesekan dan suhu aspal yang ekstrem.

Penanganan ban Penny Farthing tidaklah sama dengan sepeda biasa, ukurannya yang gigantik membutuhkan teknik khusus. Beruntung, "Asuransi Persaudaraan" KOSTI bekerja dengan sempurna. Dulur-dulur komunitas sepeda tua dari KOLARI dengan sigap turun ke jalan raya, membantu proses perbaikan secara darurat hingga akhirnya sang kuda besi siap kembali ditunggangi.

Setelah kendala teratasi, Kang Dede bahkan menyempatkan diri singgah di kediaman Tim Media KOSTI di Ciamis untuk bertegur sapa, sebelum kembali menggenjot pedalnya dan sukses mencapai titik peristirahatan di Langensari, Kota Banjar pada malam harinya.

Lebih dari Sekadar Mengayuh

Ekspedisi Kang Dede Susilo di sepanjang Jalur Selatan kini telah memahat cerita epik tersendiri dalam sejarah pergerakan IVCA Rally 2026. Ia mengingatkan kita bahwa setiap kayuhan bukan sekadar upaya menghabiskan kilometer, melainkan manifestasi nyata dalam menjaga keberanian, kebudayaan, dan semangat persaudaraan tanpa batas.

Sendirian di bawah terik matahari dan dinginnya hujan, menunggangi teknologi transportasi berusia ratusan tahun, Kang Dede membuktikan bahwa nyala api seorang Onthelis tak akan pernah padam oleh kejamnya aspal maupun cuaca. Dan kini, roda raksasa itu masih terus berputar menuju satu garis akhir yang sama:

Candi Prambanan, Klaten.

SATU ONTHEL • SATU RASA • SEMUA SAUDARA ARSIP HIDUP NUSANTARA

0/Post a Comment/Comments