Ada banyak cara untuk mengukur tingkat kesuksesan sebuah perhelatan sepeda tua berskala internasional. Sebagian orang mungkin akan melihatnya dari deretan angka jumlah peserta. Sebagian lagi menghitung seberapa banyak bendera negara yang berkibar. Ada pula yang menilainya dari kemegahan tata panggung, luasnya stan pameran klithikan, atau masifnya pemberitaan di media massa.
Namun, di pelataran Candi Prambanan, ada sesuatu yang mutlak jauh lebih berharga daripada sekadar deretan angka statistik. Yang tampak secara kasat mata bukan lagi sekadar ribuan rongsokan besi tua yang dikumpulkan di satu titik. Yang terasa merasuk ke dada adalah hadirnya sebuah "rasa" yang teramat sulit dideskripsikan dengan angka—rasa itu bernama Persaudaraan.
Peserta mancanegara datang menyemut membawa bahasa, budaya, dan kebiasaan yang tentu saja berbeda. Ada yang terbang dari Malaysia, Singapura, Thailand, mendarat dari daratan Eropa, hingga berduyun-duyun dari berbagai penjuru provinsi di Nusantara. Namun ajaibnya, ketika kaki telah berpijak di tengah lautan onthelis dan onthelista, seluruh tembok perbedaan itu seketika luruh.
Pada awalnya, kelaziman yang terjadi adalah peserta lokal yang antusias memburu tamu mancanegara untuk berswafoto. Namun, seiring berjalannya waktu, situasinya justru berbalik 180 derajat. Para delegasi asing-lah yang terlihat sibuk menyisir sudut-sudut lapangan, mencari onthelis dan onthelista Indonesia untuk diajak berfoto bersama.
Mereka terhipnotis oleh keberagaman visual yang disuguhkan tuan rumah. Ada yang gagah mengenakan kostum pejuang kemerdekaan, gemulai dalam balutan busana vintage tempo dulu, anggun dengan pakaian adat daerah, hingga ragam atribut kreatif lain yang mencerminkan betapa kayanya budaya Nusantara.
“Bahasa boleh berbeda. Negara asal boleh berbeda. Warna kulit boleh berbeda. Tetapi ketika lensa kamera diangkat dan senyum mulai mengembang, semuanya membaur menjadi satu. Tidak ada yang merasa asing. Semua larut dalam kehangatan persahabatan.”
Mungkin, di situlah letak daya magis yang hanya dimiliki oleh dunia onthel. Karena yang dipertontonkan di atas aspal bukan sebatas teknologi transportasi lawas, melainkan manusia-manusianya. Manusia yang datang mengayuh dengan membawa cerita, budaya, sejarah, dan sekeranjang kebahagiaan. Banyak peserta internasional yang akhirnya pulang bukan hanya membawa suvenir foto, melainkan membawa sahabat baru, jaringan persaudaraan lintas benua, dan memori abadi yang akan terus mereka ceritakan di negara asalnya.
Prambanan yang Selalu Menjadi Magnet
Prambanan sekali lagi berhasil membuktikan marwahnya sebagai salah satu kutub magnet terbesar di dunia sepeda tua Indonesia. Reputasi agung dari kawasan wisata Candi Prambanan dan Yogyakarta memang memiliki daya tarik magis tersendiri bagi para pecinta sepeda klasik. Setiap kali pertemuan akbar ditiupkan di kawasan ini, animo peserta dipastikan membludak. Terlebih ketika panji-panji berskala internasional seperti IVCA disematkan di sana.
Bagi para onthelis dan onthelista, definisi kebahagiaan itu sesungguhnya sangatlah sederhana. Ngonthel bersama, berkarnaval merayakan budaya, membongkar lapak mencari harta karun di pasar klithikan, hingga bersilaturahmi tanpa kasta sembari menyesap kopi dan menikmati suasana kota. Sederhana, namun gravitasi kesederhanaan itulah yang sanggup membuat ribuan orang rela menembus aspal dari berbagai penjuru pulau dan benua.
OO JeJe: Gerakan Merumput dari Rahim Persaudaraan
Kemeriahan paripurna di Prambanan ini tidak turun begitu saja dari langit. Jauh berbulan-bulan sebelum ribuan peserta memadati arena, ada epik perjuangan panjang di jalan raya yang diam-diam telah menggetarkan hati banyak orang. Pergerakan itu bernama OO JeJe — Onthelis Onthelista Jarak Jauh.
Pada mulanya, ekspedisi ini mungkin hanya dipandang sebelah mata layaknya kegiatan *touring* biasa. Namun, peluh yang menetes di atas aspal perlahan mengubahnya menjadi sebuah gerakan nasional yang menginspirasi. Di setiap kota yang dilintasi, para ksatria aspal ini disambut dengan kehangatan luar biasa oleh pemerintah daerah, aliansi komunitas, pengurus KOSTI, KORMI, hingga masyarakat awam. Ada doa yang dirapalkan, harapan yang dititipkan, pelukan yang menguatkan, dan bekal yang disisipkan untuk mengiringi setiap kayuhan mereka menuju Klaten.
OO JeJe akhirnya berevolusi menjadi sebuah pergerakan organik yang lahir dari akar rumput, membesar karena semangat gotong royong, dan terus bernapas karena oksigen persaudaraan. Sebuah Gerakan Nasional Jelajah Onthelis Onthelista Terpadu ini menjadi pembuktian tak terbantahkan bahwa kekuatan terhebat KOSTI bukanlah terletak pada struktur organisasinya, apalagi deretan jabatannya, melainkan pada ikatan emosional dan rasa saling memiliki antar sesama pecinta besi tua.
Pada garis finisnya, sepeda onthel hanyalah sebuah medium. Alat yang tak bernyawa. Yang sesungguhnya menarik ribuan manusia untuk berduyun-duyun datang ke Prambanan bukanlah tentang konstruksi besi, ukuran roda, ataupun gir rantai.
Yang membawa mereka ke sana adalah Rasa.
Sebuah rasa yang selama bertahun-tahun telah menjelma menjadi fondasi paling kokoh bagi Komunitas Sepeda Tua Indonesia. Rasa yang sanggup meleburkan batas antar daerah, antar organisasi, antar budaya, bahkan antar bendera negara.
Persaudaraan.
SATU ONTHEL, SATU RASA.
SEMUA SAUDARA.
Diolah dari: CATATAN TERSERAK DI PRAMBANAN
Sumber inspirasi tulisan: Catatan Terserak di Prambanan karya Bang Anto, 30 Mei 2026.

Posting Komentar