Perjalanan Kang Dede Susilo menuju Prambanan kini memasuki babak baru. Setelah sebelumnya berhasil menaklukkan turunan legendaris Nagreg dan kelokan maut Lingkar Gentong menggunakan sepeda roda besar Penny Farthing, Onthelis asal Cianjur ini kini mulai menapakkan rodanya di wilayah Jawa Tengah.
Petualangannya menuju IVCA Rally 2026 di kawasan Candi Prambanan, Klaten, menjadi salah satu kisah paling menarik dan disorot dalam rangkaian touring Onthelis Nusantara. Di tengah gempuran dunia yang serba cepat, ia memilih melawan waktu dan jarak di atas mesin abad ke-19.
Dari Banjar Menuju Perbatasan Banyumas
Setelah mengalami trouble karet ban yang lumer di kawasan Warung Jeruk, Ciamis, dan menginap di basecamp KOLARI Langensari (Banjar), pagi harinya Kang Dede kembali mengayuh. Dengan Penny Farthing rakitannya sendiri, ia bergerak meninggalkan Jawa Barat menuju perbatasan Jawa Tengah.
Perjalanan ini bukanlah etape ringan. Rekan-rekan komunitas KOLARI dengan setia mengawal Kang Dede hingga ke alun-alun Wanareja, titik yang sudah cukup jauh memasuki teritori Jawa Tengah.
Dalam bentang jarak sekitar 45 kilometer dari Banjar menuju Banyumas, Kang Dede harus berhadapan dengan salah satu jalur yang dikenal cukup ekstrem oleh para pengendara lintas selatan: Kawasan Gunung Sengkala. Jalur ini menakutkan karena tanjakan panjangnya yang menyiksa, turunan yang mengancam nyawa, tikungan tajam, serta lalu lintas kendaraan berat yang tak pernah sepi.
Bagi pesepeda modern saja, jalur tersebut sudah cukup meremukkan kaki. Namun, Kang Dede menaklukkannya menggunakan Penny Farthing—sepeda dengan roda depan raksasa tanpa freewheel dan sistem pengereman yang sangat terbatas.
Disambut Hangat Komunitas Majenang
Memasuki wilayah Majenang, Kabupaten Cilacap, Kang Dede langsung mendapat sambutan hangat dari komunitas sepeda tua setempat. Kawan-kawan dari komunitas Komando dan Pedalmas menyambut kedatangannya sebagai bentuk penghormatan dan solidaritas antar Onthelis Jalur Selatan.
Di tengah perjalanan panjang yang melelahkan fisik dan mental, sambutan seperti inilah yang menjadi "bahan bakar" utama bagi para petarung aspal jarak jauh. Momen ini bukan sekadar tentang tempat singgah, melainkan monumen hidup yang menyimbolkan bahwa perjalanan menuju IVCA Rally 2026 benar-benar merajut kembali rasa persaudaraan melampaui batas kota dan komunitas.
Penny Farthing Melawan Gunung Sengkala
Setelah merasakan kontur yang sedikit landai dari Kecamatan Majenang hingga Karang Pucung, tibalah saatnya menembus tapal batas Kabupaten Banyumas. Daerah pertama yang harus ditaklukkan di wilayah ini tidak lain adalah Kecamatan Lumbir, yang identik dengan lereng Pegunungan Sengkala.
Pemandangan Kang Dede mengayuh sepeda raksasanya di kawasan pegunungan menjadi tontonan tak biasa. Sesekali kendaraan melambat, para sopir membuka kaca hanya untuk melihat langsung sepeda unik yang tampak seperti entitas yang terlempar dari mesin waktu.
Dengan posisi duduk yang sangat tinggi dan keseimbangan yang harus dikalibrasi di setiap detik, tanjakan dan turunan di Gunung Sengkala menjadi pertarungan hidup mati. Namun perlahan, aspal demi aspal berhasil dilalui. Kang Dede akhirnya sukses menyegel wilayah Jawa Barat dan secara resmi menginvasi Jawa Tengah.
Istirahat di Jatilawang
Setelah menembus Lumbir dan Wangon, langit mulai gelap. Menjelang malam, Kang Dede akhirnya menepi di Jatilawang dan beristirahat di kediaman Bu Daning. Etape hari ini tercatat sebagai salah satu etape paling menguras tenaga sejak roda pertama kali diputar dari Cianjur.
“Sejauh 80 kilometer hari ini ia mengayuh. Entah sudah berapa ribu kali kakinya harus berputar tiada henti memutar roda raksasa itu tanpa sistem freewheel. Sebuah perjuangan fisik dan mental yang tak terbayangkan.”
Bukan Lagi Sekadar Touring
Kini, perjalanan Dede Susilo mulai dikenal luas, tidak hanya di pusaran internal Onthelis, tetapi juga masyarakat umum yang menanti laporan harian ekspedisi menuju Prambanan. Sosok pria yang menunggangi Penny Farthing buatan tangan melintasi aspal Jalur Selatan ini telah menjelma menjadi simbol pelestarian sejarah bersepeda di Nusantara.
Perjalanan heroik ini merupakan kepingan dari mahakarya menuju 44th International Veteran Cycling Association (IVCA) Rally 2026. Sebuah perhelatan dunia yang untuk pertama kalinya digelar di Asia Tenggara, menempatkan Prambanan, Klaten (20–24 Mei 2026) sebagai panggung utama berkumpulnya para kolektor dan pecinta sepeda klasik dari berbagai benua.
Kelak, di antara ribuan sepeda dari seluruh penjuru dunia yang memadati pelataran Prambanan, perjalanan Kang Dede akan menjadi salah satu catatan sejarah yang paling dikenang. Karena di tengah riuhnya dunia modern yang serba instan, masih ada seseorang yang rela memeras keringat, mengayuh sejarah dengan roda raksasa.
Posting Komentar