Di tengah deru kendaraan modern yang melintas cepat di jalur lintas Jawa, sosok itu tampak begitu berbeda. Duduk tinggi di atas roda raksasa, ia seperti datang dari masa lalu. Banyak pengendara memperlambat kendaraan hanya untuk memastikan apa yang mereka lihat benar adanya.
Ya, itu benar-benar sebuah Penny Farthing. Sepeda legendaris era 1870-an dengan roda depan besar dan roda belakang kecil yang kini nyaris hanya ditemukan di museum atau parade sejarah dunia. Namun di tangan Dede Susilo, Onthelis asal Cianjur sekaligus penggerak VOC Cianjur, sepeda itu kembali hidup dan menaklukkan jalan raya Indonesia.
Pada tahun 2024, Dede melakukan perjalanan luar biasa sejauh hampir 800 kilometer menuju Boyolangu, Tulungagung, Jawa Timur. Sebuah perjalanan panjang yang bukan sekadar touring, tetapi sebuah ekspedisi budaya dan pembuktian ketahanan manusia di atas teknologi abad ke-19.
Bagi sebagian orang, perjalanan lintas provinsi menggunakan sepeda modern saja sudah terasa berat. Tetapi Dede memilih kendaraan yang jauh lebih menantang. Penny Farthing tidak memiliki sistem gigi modern. Tidak ada freewheel. Tidak ada mekanisme santai ketika turunan. Setiap kayuhan pedal langsung memutar roda depan raksasa berdiameter 44 inci. Selama roda berputar, kaki pengendara harus terus bergerak tanpa henti.
Lebih menarik lagi, sepeda tersebut merupakan hasil produksi dan rakitan mandiri Dede sendiri. Sebuah karya yang bukan hanya dipamerkan, tetapi benar-benar diuji di medan nyata lintas Jawa. Perjalanan dimulai dari Cianjur dengan semangat sederhana: mengayuh sejarah tetap hidup.
Namun perjalanan itu tidak mengambil jalur lurus yang mudah. Dede justru memilih rute berliku demi menyapa komunitas-komunitas sepeda tua di berbagai kota. Dari Bandung, Majalengka, Cirebon, Brebes, Wangon, hingga Kebumen, setiap daerah menjadi bagian dari cerita panjang perjalanan roda raksasa tersebut.
Di sepanjang jalan, perhatian masyarakat tak pernah berhenti. Banyak warga memotret, menyapa, bahkan mengejar untuk melihat lebih dekat sepeda unik yang mereka kira hanya ada di film-film lama. Tetapi di balik keunikannya, perjalanan itu penuh ujian berat.
Musuh terbesar Dede bukan rasa lelah, melainkan patahnya jari-jari roda Penny Farthing akibat tekanan medan jalan yang ekstrem. Jalur menurun memberikan beban besar pada struktur roda depan sehingga beberapa kali ia harus berhenti mencari tukang las demi memperbaiki sepeda di tengah perjalanan.
“Jari-jari troubelnya yang sering patah… mungkin karena turunan.”
Ungkapnya sambil tersenyum mengenang perjalanan tersebut. Namun hambatan teknis itu sama sekali tidak menghentikan kayuhannya.
Saat memasuki wilayah Ngawi, perjalanan bersejarah itu mendapat sambutan hangat dari komunitas Jaya Abadi Onthel. Dede kemudian diajak singgah ke Benteng Pendem Van Den Bosch, salah satu situs sejarah penting di Jawa Timur yang memperkuat nuansa historis perjalanan tersebut.
Dari sana, rombongan mengawal Dede menuju Patung Kartonyono, ikon terkenal di Ngawi yang memiliki cerita budaya tersendiri. Perjalanan yang awalnya hanya tentang sepeda berubah menjadi ruang silaturahmi lintas komunitas dan lintas sejarah.
Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, perjalanan Dede Susilo menjadi pengingat bahwa ada nilai-nilai yang tetap layak dijaga: kesabaran, ketekunan, kebersamaan, dan kecintaan terhadap budaya.
Perjalanan 800 kilometer menuju Tulungagung tahun 2024 itu akhirnya selesai. Namun kisahnya tidak berhenti di garis akhir. Sebab kini, Dede kembali bersiap mengayuh membelah Pulau Jawa dari Jalur Selatan menuju Prambanan dalam rangka IVCA Rally 2026.
Dan perjalanan berikutnya akan kembali menghadirkan cerita baru di atas roda sejarah.
Posting Komentar